Sifat Kimia dan Ekstraksi Kemasan Plastik
I. Tujuan Percobaan
- Dapat mengenal sifat-sifat bahan kimia masing-masing pengemas.
II. Alat dan Bahan
2.1 Alat yang akan digunakan
- Tabung reaksi 4 buah
- Labu ukur 2 buah
- Corong 1 buah
- Pipet ukur 1 buah
- Gelas kimia 2 buah
- Spatula 1 buah
- Neraca analitik 1 buah
- Gunting 1 buah
- Penggaris 1 buah
2.2 Bahan yang akan digunakan
- Berbagai jenis plastik : PVC, PP, HDPE, LDPE, PET
- NaOH 10 %
- Minyak Goreng
- Larutan Sabun 1 %
- Asam Sitrat
- Alkohol
III. Dasar Teori
Bahan pengemas yang baik adalah yang dapat melindungi produk dari kontaminasi kerusakan mekanis dan kerusakan fisik. Selain itu kemasan harus aman dan tidak mencemari prosuk yang dikemasnya.
Kemasan plastik tersusun dari bahan kimia alami atau pun sintetis yang mempunyai sifat kimia dam kelarutan terhadap pelarut yang berbeda tergantung pada bahan pengemasnya (penyusunnya). Kemasan yang dapat dilarutkan oleh produk yang dikemas tentunya dapat mencemari produk tersebut sehingga menjadi tidak aman lagi untuk dikonsumsi. Selain itu apabila kemasan dapat larut (tidak tahan terhadap berkurang oleh karena pemilihan pengemas plastik harus dissuaikan dengan produ yang akan dikemasnya.
Kemasan produk makanan dari plastik kini telah banyak digunakan oleh produsen untuk wadah pembungkus makanan. Agar tidak salah memilih, mari kita kenali arti kode plastik dan penggunaannya.
Pada kemasan yang terbuat dari plastik, biasanya ditemukan simbol atau logo daur ulang yang berbentuk segi tiga dengan kode-kode tertentu. Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).
Simbol daur ulang (recycle) menunjukkan jenis bahan resin yang digunakan untuk membuat materi. Simbol ini dibentuk berdasar atas Sistem internasional koding Plastik dan lazim digambarkan sebagai angka (dari 1 sampai 7) dilingkari dengan segitiga atau loop segitiga biasa (juga dikenal sebagai Mobius loop), dengan akronim dari bahan yang digunakan, tepat di bawah segitiga.
#1 – PET (Polyethylene Terephthalate)
. Umumnya PET ditemukan pada sebagian besar botol air mineral. Hal ini dimaksudkan untuk aplikasi penggunaan tunggal; penggunaan berulang meningkatkan risiko pencucian dan pertumbuhan bakteri.
Produk yang terbuat dari plastik PET wajib didaur ulang tapi tidak digunakan berulang.
#2 – HDPE (High-Density Polyethylene)
HDPE adalah plastik kaku yang digunakan untuk membuat botol susu, deterjen dan minyak botol, mainan, dan beberapa kantong plastik. Plastik HDPE adalah plastik yang paling sering didaur ulang dan dianggap sebagai salah satu bentuk plastik yang paling aman.
Produk yang terbuat dari HDPE yang dapat digunakan kembali dan didaur ulang.
#3 – PVC (Polyvinyl Chloride)
PVC adalah plastik yang mudah dibentuk, digunakan untuk membuat pembungkus makanan, botol minyak goreng, balon air, dan mainan anak-anak. PVC bisa juga digunakan sebagai bahan pelindung kabel, dan pipa plastik. Karena PVC relatif tahan terhadap sinar matahari dan cuaca, PCV juga digunakan untuk membuat bingkai jendela, selang, bedeng dan teralis.
PVC mengandung komponen berbahaya sehingga penggunaannya dapat diaplikasikan dengan benar agar tidak memperburuk kesehatan.
#4 – LDPE (Low-Density Polyethylene)
LDPE sering ditemukan pada kantong kresek, botol yang bisa diperas, dan jenis kantong plastik yang digunakan untuk paket roti. Pastik kantong belanja yang digunakan di sebagian besar toko-toko saat ini dibuat dengan menggunakan plastik LDPE. Beberapa pakaian dan furnitur juga menggunakan jenis plastik ini.
LDPE dianggap kurang beracun dari plastik lainnya, dan relatif aman untuk digunakan.
#5 – PP (Polypropylene)
Polypropylene adalah plastik yang tangguh dan ringan, dan memiliki kualitas tahan panas yang sangat baik. Berfungsi sebagai penghalang terhadap kelembaban, minyak dan bahan kimia. Ketika anda mencoba untuk membuka lapisan plastik tipis dalam
kotak sereal, itu adalah polypropylene. Hal ini membuat sereal anda kering dan segar. PP juga biasa digunakan untuk ember, botol plastik, margarin dan kontainer yogurt, tas keripik kentang, sedotan, pita dan tali.
PP dianggap aman untuk digunakan kembali dan merupakan jenis plastik terbaik untuk kebutuhan dapur.
#6 – PS (Polystyrene)
Jenis ini memiliki ciri kaku, getas, buram, terpengaruh lemak dan pelarut, mudah dibentuk dan melunak pada suhu 95 derajat celcius.
Sterofoam memang bahaya, terlebih jika terpapar suhu panas karena bahan kimia berbahayanya mudah bermigrasi ke makanan dan ini sulit diolah oleh lingkungan jadi disarankan perhatikan lagi penggunaannya.
#7 – Plastik Lainnya (BPA, Polycarbonate dan LEXAN)
Ditandai dengan logo segitiga bernomor 7 pada kemasan yang biasanya berjenis polikarbonat (PC) dengan ciri tidak mudah pecah, ringan, jernih, secara termal sangat stabil. PC biasanya digunakan untuk galon air mineral 19 liter, botol air minum, dan botol susu bayi.
Kode plastik #7 dapat ditemukan juga pada suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan.
Tabel Kode Plastik Dari BPOM
Berbahayakah penggunaan berulang pada botol Aqua?
Pasti kita sering dengar atau membaca tulisan-tulisan di media, bahwa botol plastik air mineral / aqua (kode botol: PET / #1) itu tidak boleh digunakan berkali-kali, karena bisa menjadi racun atau karsinogenik
. Setelah saya cari tahu, ternyata botol minum plastik / aqua itu (PET) tidak mengapa jika digunakan berkali-kali, asal tidak kotor, lecet, dan kemasukan air panas.
Yang berbahaya itu jika botol air tersebut (PET) dimasukkan air mendidih. Jenis plastik PET mulai luruh jika terkena air dengan suhu > 93 C.
FDA Amerika Serikat menyatakan, penggunaan plastik PET dimungkinkan dalam aplikasi yang bersentuhan dengan makanan, termasuk makanan dan minuman kemasan, terlepas dari apakah kemasannya ditujukan untuk peggunaan tunggal atau berulang. Botol minuman PET yang dijual di Amerika Serikat dirancang untuk penggunaan tunggal untuk alasan ekonomi dan budaya, bukan karena masalah keamanan apapun terhadap PET.
Bahkan, botol plastik yang dibuat dengan resin PET -yang sama dengan botol sekali pakai-, aman digunakan kembali di sejumlah negara. Satu-satunya perbedaan dengan botol isi ulang adalah bahwa botol isi ulang memiliki dinding samping yang lebih tebal, yang memungkinkan untuk menahan kekuatan mekanik yang terlibat dengan koleksi industri, pencucian, dan operasi pengisian ulang.
Sumber bacaan:
http://en.wikipedia.org/wiki/Plastic_bottle
http://en.wikipedia.org/wiki/Resin_identification_code
https://www.ebottles.com/articles/bottlesafety.htm#40
http://eartheasy.com/blog/2012/05/plastics-by-the-numbers/
http://en.wikipedia.org/wiki/Solar_water_disinfection#Cautions
IV. Prosedur Percobaan
- Menggunting masing-masing bahan pengemas fleksibel sebanyak 4 buah dan masing-masing berukuran 1 cm x 6 cm
- Menimbang masing-masing dan memasukkan ke tabung reaksi
- Menuang masing-masing pelarut ke tabung reaksi sampai bahan tersebut terendam, kemudian membiarkan selama 24 jam
- Bahan yang direndam diangkat kemudian dicuci denga air (bagi bahan yang direndam dengan NaOH, larutan sabun, asam sitrat). Sedangkan bagi minyak goreng setelah bahan tersebut dibersihkan dengan kertas, harus dicelup alkohol untuk menghilangkan sisa-sisanya dan akhirnya semua bahan pengemas harus dibiarkan dan ditimbang kembali
V. Data Pengamatan
NaOH
Sampel
|
Berat
|
Perubahan %
| |
Sebelum
|
Sesudah
| ||
PP
|
0,0330
|
0,0367
|
11,33
|
PET
|
0,1355
|
0,1433
|
5,756
|
LDPE
|
0,0170
|
0,0174
|
2,353
|
HDPE
|
0,0154
|
0,0159
|
3,25
|
Asam Sitrat
Sampel
|
Berat
|
Perubahan %
| |
Sebelum
|
Sesudah
| ||
PP
|
0,0365
|
0,0385
|
5,48
|
PET
|
0,1895
|
0,1909
|
0,739
|
LDPE
|
0,0175
|
0,0175
|
-
|
HDPE
|
0,0147
|
0,0144
|
2,04
|
Minyak
Sampel
|
Berat
|
Perubahan %
| |
Sebelum
|
Sesudah
| ||
PP
|
0,0324
|
0,0357
|
10,59
|
PET
|
0,1758
|
0,1782
|
1,365
|
LDPE
|
0,0203
|
0,0219
|
7,88
|
HDPE
|
0,0140
|
0,0136
|
6,33
|
Sabun
Sampel
|
Berat
|
Perubahan %
| |
Sebelum
|
Sesudah
| ||
PP
|
0,0316
|
0,0328
|
3,797
|
PET
|
0,1548
|
0,1548
|
-
|
LDPE
|
0,0205
|
0,0206
|
0,488
|
HDPE
|
0,0140
|
0,0136
|
2,86
|
VI. Analisa Percobaan
Pada percobaan sifat kimia dan ekstraksi bahan kemasan plastik dapat diaalisa bahwa plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dibentuk dalam lembaran dan mempunyai ketebalan yang berbeda tiap sisinya. Plastik terbuat dari resin (alammi maupun sintetik). Pada umumnya plastik ditambahkan dengan zat aditif non plastik yang berfungsi sebagai pengemas bahan pangan, penstabil panas, antioksidan, pewarna, dan penyerap asam.
Kualitas bahan pangan setelah dipengaruhi oleh kemasannya. Oleh karenanya perlu diketahui sifat fisik dan kimia dari suatu pengemas. Pengujian terhadap sifat fisik adalah pengujian kemampuan atau ketahanan suatu pengemas terhadap benturan, sobekan, keelastisan. Sedangkan pengaruh pengujian terhadap sifat kimia adalah pengujian atau kethanan suatu pengemas terhadap bahan-bahan kimia yang bersifat basa, asam yang berasal dari produk maupun lingkungan luar.
Namun, pada praktikm kali ni kami hany melakukan pengujian terhadap sifat kimia plastik. Adaun bahan pengemasd plastik yang duji diantaranyya; PP (botol kemasan aqua) ; PET (cup minuman) ; HDPE (cup makanan) ; LDPE (kemasan headset). Sedangkan pearut kmia yang digunakan yaitu sabun 1 %, NaOH 10 %, asam sitrat dan minyak goreng. Kemasan plastik tersebut masing-mmasing dipotong dengan ukuran 1 x 6 cm sebanyak 4 buah setiap jenis plastik. Setelah iu, kemasan tersebut dimasukkan kedalam test tube berupa tabung reaksi. Kemudian diisi dengan pelarut selama 24 jam (tiap satu jenis sampel harus dimasukkan kedalam satu pelarut). Terlebih dahulu menimbang berat dari masing-masing kemasan plastik agar dapat diketahui perubahan yang akan terjadi setelah perendaman.
Setelah satu hari perendaman, sampel yang direndam dalam sabun, asam sitrat dan NaOH dibilas dengan air sebelum ditimbang sedangkan minyak haruslah dibilas dengan alkohol. Dari hasil penimbangan dan data pengamatan ada kemasan pastik yang tidak mengalami perubahan hal inidisebabkan tidak terjadinya reaksi anatara keduanya yaitu LDPE pada asam sitrat dan PET pada sabun.
Pada umumnya, plastic mengalami peningkatan berat seperti pada sampel plastic PP ( NaOH dan Minyak) yang beratnya meningkat drastis. Kenaikan tersebut disebabkan adanya larutan yang terserap oleh plastic. Hal tersebut dapat menandakan bahwa plastic PP sangat baik untuk mengemas bahan pangan yang berminyak karena dapat mengurangi kandungan minyak yang berlebihan. Seperti yang kita ketahui,
kelebihan minyak pada bahan pangan akan mengakibatkan kerusakan seperti timbulnya bau tengik. Setiap sampel yang menyerap suatu larutan, berarti dapat membantu perpenjangan umur simpan dari bahan pangan terhadap pelarut tersebut.
Namun pada sampel plastic HDPE, hal yang terjadi justru berat plastik menurun. Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa berat dari kemasan terserap kedalam pelarut.
Plastic HDPE merupakan plastic yang memiliki tekstur keras, sangat lentur, buram dan permuakaannya halus. Apabila membandingkan persentase perubahan sampel yang sama namun dengan pelarut yang berbeda, didapatkan bahwa plastic HDPE lebih baik dalam menyerap NaOH. Dalam artian, HDPE mampu melindungi produk dari kerusakan akibat pengaruh basa ( NaOH).
Plastic PET merupakan plastic yang memiliki tekstur keras, kaku, permukaannya bergelombang dan bening. Apabila membandingkan persentase perubahan sampel yang sama namun dengan pelarut yang berbeda, didapatkan bahwa plastic PET lebih baik dalam menyerap NaOH. Dalam artian, PET mampu melindungi produk dari kerusakan akibat pengaruh basa ( NaOH). Selain plastic PET dan HDPE, plastik PP juga mampu melindungi bahan pangan dari kerusakan akibat bahan kimia yang bersifat basa.
Selain mengalami perubahan berat, plastic juga mengalami perubahan kebeningan dan kilap. Pada sampel yang direndam kedalam minyak menunjukkan adanya peningkatan kilap namun mengalami penurunan kebeningan.
VII. Kesimpulan
Jenis plastik LDPE dapat melindungi bahan pangan dari kerusakan akibat minyak lebih baik dibandingkan dengan pelarut asam, basa maupun sabun. Sedangkan jenis plastik HDPE, PET dan PP mampu melindungi bahan pangan dari kerusakan bahan kimia basa lebih baik dibandingkan bahan kimia asam, sabun dan minyak.
DAFTAR PUSTAKA
-Jobsheet. “Teknologi Pengolahan Pangan “. Sifat kimia dan ekstrksi kemasan plastik. POLSRI : Palembang
LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN
“Sifat Kimia dan Ekstraksi Kemasan Plastik”
Oleh :
Kelompok 2
4KA
Dwi Sandi Wahyudi (061330400297)
Eka Anggarini (061330400298)
Elvania Novianti (061330400299)
Intan Nevianita (061330400300)
Irda Agustina (061330400301)
Nola Dwiayu Adinda (061330400304)
Pembimbing : Ir. Hj. Erwana Dewi, M. Eng
TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015











Tidak ada komentar:
Posting Komentar